Candi Plaosan, Bukti Cinta Lintas Agama?

Candi Plaosan diperkirakan mulai dibangun pada masa kekuasaan Rakai Pikatan. Sekitar abad kesembilan Masehi. Perkiraan ini didasarkan pada isi Prasasti Cri Kahulunan yang berangka tahun 842 M.

Benarkah Candi Plaosan ini merupakan bukti cinta yang dapat melintasi semua batas, termasuk batas agama? Atau justru sekedar monumen pengenang ikatan politik semata?


Candi Plaosan Dalam Sejarah Mataram Kuno

Prasasti Cri Kahulunan menulis bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan, atas dukungan suaminya. Pendapat ahli mengemukakan bahwa Sri Kahulunan adalah gelar lain Pramodyawardhani, putri Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra.

Meski beragama Buddha, Pramodyawardhani menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu. Sehingga bisa jadi benar bahwa Candi Plaosan merupakan bangunan maha romantis. Dibangun pada masa ketika segala hal masih tabu, tapi nyatanya cinta tetap bertahta di atas segala.

Bangunan Candi Plaosan

candi plaosan bukti cinta lintas agama rakai pikatanTerdiri dari Plaosan Lor dan Plaosan Kidul, kompleks candi ini hanya dipisahkan jalan kecil. Tenggat keduanya cuma sekitar 20 meter saja. Candi Plaosan terbilang luas, menghadap ke barat dengan sepasang arca Dwarapala yang saling berhadapan di bagian depan.

Candi Plaosan sering disebut candi kembar, karena bangunan utamanya merupakan dua candi induk yang berbentuk bangunan bertingkat. Candi induk selatan memajang relief laki-laki. Konon merupakan perwujudan rasa kagum Pramodyawardhani terhadap suaminya, Rakai Pikatan.

Detail pada pahatan relief Plaosan terbilang halus. Mirip dengan pahatan Candi Borobudur, Candi Sewu dan Candi Sari. Di samping itu kedua bangunan utama Plaosan dikelilingi candi perwara yang mulanya berjumlah total 174 buah. Terdiri dari 58 candi kecil dan 116 bangunan berbentuk stupa.

Plaosan dibangun dengan menggabungkan unsur Hindu (bangunan candi ramping dikelilingi perwara) dan unsur Buddha (adanya stupa). Eksotis kelihatannya, terutama bila benar bahwa bangunan ini merupakan bangunan yang dipahat dengan motivasi cinta. Cinta yang tidak biasa, hingga melintasi batas agama.

Bayangkan maju mundurnya Rakai Pikatan ketika harus menyatakan cinta, harus meminang Pramodyawardhani yang bukan dari wangsanya? Bayangkan juga reaksi keluarga Pramodyawardhani, ketika putri cantik itu memilih untuk hidup bersama penerus Wangsa Sanjaya?

Meski tentu saja, ada kemungkinan lain dalam kisah cinta ini.

Keduanya bertemu (atau dipertemukan) ketika hubungan antara Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra tidak bisa dibilang baik. Bisa jadi mereka sekedar dinikahkan sebagai bagian dari perjanjian politik. Untuk menyatukan dua wangsa, sekaligus mencegah terjadinya perang yang berpotensi memakan banyak korban jiwa.

Tetapi kalaupun benar ini perkawinan politik, semoga saja keduanya tetap menemukan cinta, dalam dasar hubungan mereka yang sungguh tidak biasa.