Kisah Rama Sinta Dalam Kitab Ramayana

Kisah Rama Sinta dimulai dari sebuah sayembara. Rama memenangkan sayembara tersebut, sehingga ia berhak meminang Sinta sebagai istri.


Kisah Rama Sinta Dalam Pengasingan

kisah-rama-sinta-dalam-kitab-ramayanaMeski berhasil meminang si cantik Sinta sebagai istri, Rama terpaksa dibuang ke hutan. Hal ini diakibatkan oleh tingkah ibu tirinya, sehingga ia tidak dapat menduduki tahta sebagai putra raja Ayodya.

Selama masa pembuangan inilah Sinta diculik oleh Rahwana, raja Alengka. Setelah melewati proses panjang yang sudah terlalu sering digembar-gemborkan sebagai salah satu kisah cinta paling dramatis, Sinta pun berhasil diboyong pulang.

Kemudian karena masa pembuangan Rama telah berakhir, maka ia pun berhak pulang ke Ayodya sebagai raja. Sinta sebagai ratunya.

Tetapi banyak orang belum tahu, bahwa kisah ini tidak berakhir disitu. Bahkan tidak berakhir indah sama sekali.

Kesucian Sinta Dipertanyakan

Cinta Rama ternyata tidak sebesar yang Sinta pikirkan. Ia mulai mempertanyakan kesucian istrinya sendiri. Pikirnya sang istri sempat disentuh oleh Rahwana, padahal tidak. Rama menuntut agar Sinta membuktikan kesucian dengan melakoni upacara bakar diri. Bila ia sudah ternoda, maka hanguslah ia. Tetapi bila ia masih suci, maka api tidak akan mau membakarnya.

Sinta memang lolos dari jilatan api, mengingat dirinya benar-benar suci. Tetapi sakit hati itu sudah terlanjur terjadi. Suami sudah terlanjur tidak percaya kepada istri.

Singkat cerita Sinta dibuang. Dalam keadaan hamil, pula. Selama pengasingannya tersebut ia melahirkan sepasang putra kembar. Dua kakak beradik yang di kemudian hari akan menentang bapaknya sendiri. Menuntut karena ibu mereka ditelantarkan begitu saja.

Tragisnya adalah ketika pertikaian sudah tidak terelakkan lagi. Sinta tak sanggup melihat anak dan ayah beradu darah. Ia memilih untuk ditelan bumi, sedangkan Rama mati tak lama kemudian.

Dengan demikian berakhirlah kisah Rama Sinta dalam deraian air mata.

Pelajaran Kisah Rama Sinta

Mungkin, memang seperti itulah hasilnya bila hubungan tidak dilandasi kepercayaan. Hanya didasari ketertarikan fisik yang membutakan. Rama yang tampan, Sinta yang cantik. Tetapi apakah itu cukup?

Seandainya Rahwana dulu memenangkan sayembara tersebut, apakah hasilnya akan tetap sama? Apakah sama busuknya, seorang suami yang tidak mempercayai istrinya sendiri, dengan seorang lelaki yang nekad memicu perang hanya demi merebut istri orang?

Incoming search terms: