Seribu Satu Istilah Pelet

Istilah ‘Pelet’ memang sepertinya sudah familiar sekali. Sudah mendarah daging, akrab benar di telinga orang Indonesia pada umumnya dan masyarakat Jawa pada khususnya. Padahal sebenarnya istilah ‘pelet’ belum lama dipakai. Bahkan secara tradisional tidak memiliki artian tertentu yang bisa dirunut ke entah jaman kapan.

nini pelet cHal ini dikarenakan istilah ‘pelet’ baru mulai digunakan secara umum sejak sekitar tahun 1970-an. Ketika marak-maraknya Sandiwara Radio Nini Pelet dari Gunung Ceremai. Sebelum itu, ilmu yang dikhususkan sebagai ajian pemikat ini disebut dengan banyak mana, tergantung Anda mendengarnya di daerah mana juga.

Orang Sumatera Melayu menyebutnya Pekasih. Orang Minang menyebutnya Pitunang, sedangkan orang Batak lebih mengenal istilah Dorma. Lain lagi dengan orang Kalimantan Barat, yang menggunakan istilah Kundang sementara orang Kalimantan Timur mengenal praktek Pitunduk.

Kalau kata William Shakespeare, apalah artinya sebuah nama? Mawar disebut dengan nama apapun toh tetap berbau wangi. Mau diberi istilah apapun ya tetap saja itu Ilmu Pelet juga. Atau mungkin, kita buatkan istilah baru saja agar tidak tercampur dengan istilah ‘pelet’ yang sudah terlanjur berkonotasi negatif.

Tapi sepertinya istilah pelet ini tetap lebih gampang dan lebih mudah dimengerti daripada istilah lain apapun yang bisa kita pikirkan sekarang.

Bolak-balik memang semuanya masalah rasa. Istilah ‘pelet’ cenderung berasa pahit. Minyak pelet dibilang haram. Tetapi kalau ada orang jual ramuan cinta ala Harry Potter yang disebut Love Potion, paling-paling mereka ikut berebut juga.

Sudah waktunya kita berhenti memikirkan apa yang diomongkan orang. Lalu mencari kebenaran dengan cara kita sendiri. Sebab untuk itulah kita diberi akal pikiran.

-ds-